Nama
Kelompok :
1.
AHMAD FADHIL (10213406)
2. ARYANI
ARDIANA SARY (11213415)
3. FARIZ GIBRAN (1A213866)
4. REZA
ARRACHMAN DZ (17213491)
Kelas
: 1EA10
PENDAHULUAN
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu,
siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun. (QS. Al-Mulk:2)
Manusia dan kematian adalah dua hal yang tidak bisa terpisahkan, bak sekeping
mata uang logam, keduanya saling bertautan. Selaras dengan hukum alam
–sunnatullah-, bahwa setiap yang mempunyai jiwa akan mengalami kematian, maka
kematian manusia adalah hal yang pasti dan tidak dapat terelakkan.
Kematian manusia adalah proses yang terus berlangsung. Kematian manusia,
karenanya, adalah problema manusia masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.
Problema seperti ini kita sebut problem filosofis-eksistensial yang tak kenal
batasan spasio-temporal. Namun demikian, bingkai historis tetap diperlukan
untuk memberi insight tentang sebab-musabab dan dampak luasnya terhadap keadaan
kemanusiaan.
PEMBAHASAN
a. Pengertian hidup
Hidup adalah pertalian roh dan badan serta hubungan interaksi antara keduanya.
Atau hidup adalah suatu sifat yang dengan sifat itu sesuatu menjadi
berpengetahuan dan memiliki kekuatan. Jadi, hidup itu merupakan sumber
kenikmatan; sebab dengan adanya hidup maka tidak seorang pun dapat menikmtai
arti kehidupan dunia serta merasakan pembalasan baik buruk di akhirat nanti.
Berikut ini tahapan-tahapan kehidupan manusia:
1) ALAM RUH/ALAM ARWAH
Yakni alam Awal manusia diciptakan dan tidak ada satupun manusia mengetahuinya
karena bagi Allah swt. tidak ada batas Ruang/Waktu dan Tempat.
2) ALAM RAHIM
Yakni alam dimana manusia tercipta melalui suatu proses pembenihan di dalam
Rahim/ kandungan yang lamanyasudahditentukan 9 bulan
3) ALAM DUNIA
Yakni alam ujian sebagaimana yangkita sedang alami bersama sekarang ini.
4) ALAM KUBUR atau ALAM BARZAH
Yakni alam di mana manusia akan memperolah Siksa atau Nikmat kubur tergantung
perbuatannya selama hidupnya di dunia sambil menunggu datangnya hari kiamat.
Dan bagi yang memperoleh nikmat kubur, mereka para ahlul kubur seperti tidur
saja layaknya
5) ALAM AKHERAT
Disebut juga alam Baka. Artinya alam terakhir yang abadi, tiada bersudahan.
Mereka yang kekal di Sorga kekal di selama-lamanya. Dan mereka yang kekal di
neraka, kekal selama-lamanya
Al Qur’an yang menjadi dasar ajaran hidup
dalam Islam, memberikan alasan dan keterangan secukupnya mengenai sebab, arti
dan tujuan hidup manusia.
> Sebab adanya hidup
Semesta raya ini dulunya dari kekosongan total, tidak satupun yang ada kecuali
Allah yang ESA yang senantiasa dalam keadaan ghaib. DIA mempunyai maksud agar
berlaku penyembahan terhadapNYA yang tentu harus dilaksanakan oleh makhluk yang
memiliki logika Maka perlulah diciptakan jin dan manusia yang akan menjalani
ujian dimana dapat ditentukan berlakunya pengabdian dimaksud. Kedua macam
makhluk ini membutuhkan tempat hidup dimana segala kebutuhan dalam pengujian
tersedia secara alamiah atau ilmiah, maka diciptakanlah benda angkasa berbagai
bentuk, masa dan fungsi. Semuanya terlaksana secara logis menurut rencana
tepat, dan tiba masanya dimulai penciptaan Jin dan Manusia, masing-masing
berbeda di segi abstrak dan konkrit.
Allah itu Pencipta tiap sesuatu dan DIA menjaga tiap sesuatu itu. (QS 39/62)
DIA pelaksana bagi apa yang DIA inginkan. (QS 85/16)
Dan tidaklah AKU ciptakan jin dan manusia itu kecuali untuk menyembah AKU (di
akhirat utamanya). QS 51/96.
> Arti Hidup KINI
Al Qur’an memberikan ajaran tentang arti hidup bahwa hendaklah menghubungkan
dirinya secara langsung kepada Allah dengan cara melaksanakan hukum-hukum
tertulis dalam al quran, dan menghubungkan dirinya pada masyarakat sesamanya
dalam melaksanakan tugas amar makhruf nahi munkar.
DIAlah yang menciptakan kematian dan kehidupan agar DIA menguji kamu yang mana
diantara kamu yang lebih baik perbuatannya, dan DIA Mulia dan Pengampun. (QS
67/2)
Bahwa Kami menunjukkan garis hukum padanya (manusia itu), terserah padanya
untuk bersyukur atau kafir. (QS 76/3)
> Tujuan hidup
Al Qur’an menjelaskan bahwa kehidupan kini bukanlah akan berlalu tanpa akibat
tetapi berlangsung dengan catatan atas semua gerak zahir dan batin yang
menentukan nilai setiap indivisu untuk kehidupan konkrit nantinya di alam
akhirat, dimana kehidupan terpisah antara yang beriman dan yang kafir untuk
selamanya. Dan berlombalah kepada keampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya
sama dengan luas planet-planet dan Bumi ini, dijanjikan untuk para muttaqien.
(QS 3/133)
Sungguh kami ciptakan manusia itu pada perwujudan yang lebih baik. Kemudian
kami tempatkan dia kepada kerendahan yang lebih rendah. Kecuali orang-orang
beriman dan beramal shaleh, maka untuk mereka upah yang terhingga. (QS 95/4-6)
Dengan keterangan singkat ini, jelaslah bahwa Al Qur’an bukan saja menjelaskan kenapa
adanya hidup kini, tetapi juga memberikan arti hidup serta tujuannya yang harus
dicapai oleh setiap diri. Keterangan Al Qur’an seperti demikian dapat diterima
akal sehat dan memang hanyalah kitab suci itulah yang mungkin memberikan
penjelasan demikian.
b. Pengertian Mati
Mati ialah terputusnya hubungan roh dengan lahir batin, perpisahan antara
keduanya, pergantian dari yang satu keadaan kepada keadaan lain. Mati berbeda
dengan tidur, karena tidur terputusnya roh sementara dengan hubungan-hubungan lahiriah.
Allah memegang jiwa
(orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu
tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya
dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.. Sesungguhnya
pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang
berfikir. (QS. Al-Zumar: 42)
Maksud ayat di atas, Allah yang menggenggam roh di saat telah tiba saatnya,
yaitu tidak adanya hidup, jiwa dan gerakannya. Dan Allah juga menggenggam roh
yang belum datang masa ajalnya, di saat ia sedang tidur, di mana roh tidak lagi
mempunyai kemampuan untuk membedakan dan dan merasakan sekalipun secara batin.
Sebab di saat tidur, hidup, jiwa dan gerakan masih ada. Karena itu para ulama
mendefenisikan tidur itu sebagai satu naluri yang dengan paksa menimpa seorang,
sehingga menghalangi perasaannya untuk mengadakan dan melengahkannya dari
kesanggupan untuk mengerti.
Ada pula yang berpendapat bahwa tidur itu adalah pingsan yang hebat yang
menimpa pikiran, sehingga menghalangi mengetahui sesuatu yang ada ini.
Dalam keadaan bangun, maka roh manusia berjalan dalam tubuh lahir batin. Dan
mengerti tentang Allah menggenggam roh di kala dalam keadaan tidurnya dan dalam
keadaan matinya dengan genggaman yang melepaskan dan menahan yaitu Allah
menutup roh dengan sesuatu yang dapat mencegahnya dari melakukan segala sesuatu
yang dapat dipegang (digenggam). Yang belum sampai batas waktu ajalnya,
dilepaskan kembali dan yang sudah sampai kepada maut, maka ditahannya hingga
hari kiamat.
Adapun kematian itu sendiri adalah batas kesempurnaan roh (jiwa) dalam hidup
(umur). Maka maut berarti menghilangkan seluruh seluruh daya rasa selama roh
itu berada di genggaman Allah. Atau maut merupakan penyempurnaan keseluruhan secara
hakiki yakni mati dan yang lain adalah penyempurnaan tidur (tidur sempurna),
sebab pada hakikatnya adalah mati juga.
Sementara mengenai mati, Munandar Sulaeman mengatakan bahwa kata mati berarti
tidak ada, gersang, tandus, kehilangan akal dan hati nurani, kosong, berhenti,
padam, buruk, lepasnya ruh dari jasad (QS. 2:28; 2:164; 33:52; 6:95).
Sedangkan pengertian mati yang sering dijumpai dalam istilah sehari-hari
adalah:
1. kemusnahan dan kehilangan total roh dari jasad.
2. terputusnya hubungan antara roh dan badan.
3. terhentinya budi daya manusia secara total.
Mengenai pengertian mati yang pertama dan kedua di atas, kalau dikaji dengan
keterangan-keterangan yang bersumber dari agama (Islam), maka kematian bukanlah
kemusnahan atau terputusnya hubungan. Kematian hanyalah terhentinya budi daya
manusia pada alam pertama, yang nanti akan dilanjutkan kehidupannya pada alam
kedua. Ajaran agama menggambarkan adanya konsepsi pertalian alam dunia dan alam
akhirat serta menggambarkan prinsip tanggung jawab manusia selama hidup di
dunia. Hal ini dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad saw. : "apabila anak
Adam telah mati, maka terputuslah daripadanya budi-dayanya kecuali tiga
perkara: sedekah jariah, ilmu yang berguna, atau anak saleh yang mendoakan
kebaikan bagi kedua orang tuanya". Demikian pula firman Allah:
dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah,
(bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu
tidak menyadarinya.(QS. Al-Baqarah:154)
Sedangkan proses kematian manusia itu sendiri tidak dapat diketahui dengan
jelas, karena menyangkut segi fisik dan segi rohani. Dari segi fisik dapat
diketahui secara klinis, yaitu seseorang dikatakan mati apabila pernapasan dan
denyut jantungnya berhenti. Dari segi rohani ialah proses roh manusia
melepaskan diri dari jasadnya, oleh karena itu proses kematian dari segi rohani
ini sulit dijelaskan secara inderawi, tetapi nyata terjadi.
Mengenai roh, para ulama saling berbeda pendapat, sehingga menjadi dua
golongan. Segolongan bersikap diam dan tidak mau mengatakan pengertian roh dan
tidak mengadakan apa-apa. Hanya mereka itu berkata: "Roh adalah tetap
pada urusan Tuhan dan termasuk rahasia-Nya yang Allah perlihatkan
gejala-gejalanya dengan ilmu-Nya, tetapi Dia tidak memberikan ilmu dan
pengetahuan tentang roh itu kepada siapa pun. Inilah sebagai alasan mereka,
seperti yang telah difirmankan oleh Allah:
dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk
urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit".(QS. Al Israa' : 85)
Kemajuan ilmu dan teknologi yang dicapai manusia dewasa ini (bahkan sampai
kapan pun) ternyata tidak sanggup mengatasi masalah kematian. Ilmu pengetahuan
hanya mampu menyelidiki sebab-sebab kematian, sekalipun bahwa pada hakikatnya
tidak ada sebab kematian kecuali ajal.
Kematian bukanlah proses akhir bagi kehidupan sebenarnya, tapi hanya merupakan
tempat singgah (transit). Ada empat fase yang telah dan akan dilewati manusia
dalam perjalanan hidupnya:
1. fase kematian di alam substansi
2. fase kehidupan dunia
3. fase kematian di alam barzakh
4. fase kehidupan di akhirat (kehidupan sebenarnya, kekal dan abadi).
c. Keutamaan Mati
Keutamaan dan fungsi kematian sulit untuk dijawab apabila berdasarkan atas
akal. Fungsi kematian ada apabila jawabannya bersumber dari ajaran-ajaran
agama. Ajaran agama tidak memandang semata-mata sebagai kematian fisik, tetapi
berfungsi rohaniah, yaitu untuk memberikan pembalasan kepada manusia sesuai
dengan amal perbuatannya sewaktu hidup. Fungsi kematian adalah untuk
menghentikan budi-daya, prestasi dan sumbangan seluruh potensi kemanusiaannya .
Seseorang yang berkecimpung dalam kemewahan dunia dan tenggelam karena tertipu
oleh keindahannya serta sangat mencintai kesenangan-kesenangannya, pastilah ia
lupa untuk mengingat kematian. Bahkan ia tidak ingat sama sekali bahwa suatu
ketika ia juga akan mati. Seandainya ia diingatkan oleh orang lain, ia malahan
membencinya. Golongan semacam ini telah disebutkan Allah dalam firman-Nya:
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka
Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan
kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS. Al-Jumu'ah:8)
Orang yang tidak ingat bahwa dirinya akan mati, maka ia akan menjadi orang yang
celaka. Biasanya ia berbuat sewenang-wenang, sombong, angkara murka dan
lain-lain, sifat yang tidak terpuji. Berbeda dengan orang yang selalu mengingat
mati. Ia akan menjauhi sifat-sifat yang tidak terpuji. Karena itu, mengingat
mati termasuk salah satu yang terpuji dan yang paling utama.
Banyak hadits nabi yang menganjurkan mengingat mati, di antaranya adalah:
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَذَّامِ اللَّذَّاتِ (رواه الترمذي)
"Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam
kelezatan (kenikmatan)" (HR. Tirmidzi)
Dengan kematian, seorang mukmin akan mendapat pahala dan ganjaran, sebab ia
bersabar dalam menerima penderitaan dan kesakitan mati.
Sebenarnya, dengan dirahasiakannya kematian itu ada hikmah yang dapat diambil
oleh manusia. Pertama, setiap saat manusia akan selalu sadar dan yakin bahwa ia
akan menjumpai kematian, dengan demikian manusia akan bersegera melakukan amal
kebaikan dan menjauhkan dari perbuatan maksiat. karena merasa takut jika
tiba-tiba ajal menjemput sementara amal kebaikan dirasa masih sedikit. Kedua,
kita merasa yakin bahwa tidak ada sebab kematian kecuali ajal, karena
sesungguhnya segala sebab kematian yang kita perhitungkan seperti rasa sakit,
ketuaan dan lain sebagainya hanyalah merupakan sebab yang tidak hakiki. Karena,
jika mati datang, ia tidak memerlukan sebab.
Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula)
kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah".
tiap-tiap umat mempunyai ajal[696]. apabila telah datang ajal mereka, Maka
mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula)
mendahulukan(nya).
d. Menyiapkan Diri Untuk Mati
Dalam menyikapi kematian, tiap orang bermacam-macam sesuai dengan keyakinan dan
kesadaran yang dimilikinya, di antaranya adalah:
1. orang yang menyiapkan dirinya dengan amal perbuatan yang baik karena
menyadari bahwa kematian bakal datang dan mempunyai makna rohaniah.
2. orang yang mengabaikan peristiwa kematian, yang menganggap kematian sebagai
peristiwa alamiah yang tidak ada makna rohaniahnya.
3. orang yang merasa takut atau keberatan untuk mati karena terpukau oleh dunia
materi.
4. orang yang ingin melarikan diri dari kematian karena menganggap bahwa
kematian itu merupakan bencana yang merugikan, mungkin karena banyak dosa,
hidup tanpa norma, atau beratnya menghadapi keharusan menyiapkan diri untuk
mati.
Menurut Zakiah Daradjat, khusus pada usia remaja, kematian dipandangnya sebagai
akhir yang harus dialami oleh setiap manusia dan mati merupakan suatu bencana
alamiah yang besar, oleh karenanya remaja merasa takut, ia tidak ingin
menghayalkan bahwa ia akan terlepas dari bencana mati itu, akan tetapi ia
mencari keyakinan logis yang lebih mendalam, misalnya dengan mempercayai adanya
kehidupan akhirat, sehingga kecemasan terhadap mati akan berkurang dengan
adanya keyakinan terhadap kehidupan akhirat sesudah mati, termasuk adanya surga
dan neraka, sehingga hal ini akan mendorong dia untuk mempersiapkan diri dengan
memperbanyak berbuat kebaikan.
Ketakutan remaja akan kematian dirinya, karena:
1. berpisah dengan orang-orang yang disayangi dan kuatir meninggalkan mereka.
2. rasa dosa, takut bertemu dengan Allah, seolah-olah takut akan hukuman akhirat.
3. ambisi dan cita-citanya belum dan tidak akan tercapai.
Oleh karena mati adalah pasti, maka sebagai seorang mukmin harus mempersiapkan
diri dalam arti tidak lengah untuk mengingat mati yang ada di hadapannya, serta
mengingatkan sahabat-sahabatnya atau teman-temannya, sehingga mereka akan
mengingat tempat kembalinya yang berada di dalam bumiyang akan menghapuskan
wajah-wajah mereka yang baik serta pembalasan yang akan terjadi dalam kuburan
mereka, bagaimana anak-anak mereka terlepas, harta mereka tinggalkan,
majelis-majelis mereka serta bekas-bekas mereka akan putus. Sabda Nabi Muhammad
saw.:
اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ . وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا ثُمَّ تَمَنَّى عَلَى اللهِ (رواه ابنماجه)
"orang yang cerdik ialah menjauhkan nafsunya dan beramal
untuk(persiapan)setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah yang
menurutkan hawa nafsunya kemudian berharap kepada Allah (untuk
mengampuninya") (HR. Ibnu Majah)
Kematian adalah musibah yang besar dan penderitaan yang hebat. Akan tetapi
justru yang lebih hebat lagi adalah sikap melalaikan diri untuk mengingat
kematian, tidak mau merenungkan soal ini dan tidak mau beramal guna menyongsong
kematian itu. Kematian sungguh menjadi suatu pelajaran bagi orang yang mau
menyadarinya.
Ayat – ayat Al-Qur’an tentang
kehidupan dan kematian :
Al Baqarah (2) : 4
dan mereka yang beriman kepada Kitab
(Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan
sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (4)
Al Baqarah
(2) : 154
Dan janganlah kamu mengatakan
terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati;
bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup[100], tetapi kamu tidak
menyadarinya. (154)
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan
kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(155)
(yaitu) orang-orang yang apabila
ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi
raaji'uun" (156)
Ali Imran
(3) :158
Dan sungguh jika kamu meninggal atau
gugur, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan. (158)
Ali Imran
(3) :169
Janganlah kamu mengira bahwa
orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi
Tuhannya dengan mendapat rezki. (169)
Al An’am (6)
: 29 - 30
Dan tentu mereka akan mengatakan
(pula): "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita
sekali-sekali tidak akan dibangkitkan" (29)
Dan seandainya kamu melihat ketika
mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah kamu melihat peristiwa yang
mengharukan). Berfirman Allah: "Bukankah (kebangkitan ini benar?"
Mereka menjawab: "Sungguh benar, demi Tuhan kami." Berfirman Allah:
"Karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kamu mengingkari(nya)."
(30)
Al A’araf
(7) : 25
Allah berfirman: "Di bumi itu
kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan
dibangkitkan.
contoh video manusia, hidup dan kematian :
Sumber :